Dream Theater – Dream Theater (2013)

 

dream-theater

Biasanya sebuah band akan melempem atau setidaknya menjadi kurang bergigi kalau ditinggal pentolannya, contoh nyata adalah Skid Row yang ditinggal Sebastian Bach, Dokken yang ditinggal George Lynch, atau Iron Maiden yang (pernah) ditinggal Bruce Dickinson.  Tapi rupanya hal tersebut tidak berlaku buat Dream Theater sepeninggalan Mike Portnoy tahun 2010 silam, justru band progresif metal ini semakin garang dengan dua album tanpa Portnoy (yang digantikan Mike Mangini) yaitu A Dramatic Turn of Events (2011) dan album terbaru ini: Dream Theater (2013).

Rahasia keberhasilan Dream Theater ada dua, pertama karena pentolan Dream Theater bukan hanya Mike Portnoy, Dream Theater bukanlah band one man show atau two men show, Dream Theater adalah five men show alias kelima personilnya pentolan semua.  Kedua, pengganti Mike Portnoy adalah Mike Mangini, drummer sakti yang sangat pantas bergabung dengan kumpulan dewa-dewa progresif metal di Dream Theater.

Album ini merupakan self-titled album, atau album bertajuk nama band itu sendiri. Lazimnya self-titled album adalah album perdana, tapi untuk Dream Theater, self-titled album berarti album studio ke-12. Berikut laporan review track by track album ini.

False Awakening Suite

Instrumental dengan dukungan orkestra yang memberi kesan lumayan garang, apalagi dengan gebukan drums Mike Mangini yang atraktif, biarpun durasinya agak terlalu panjang kalau track ini dimaksudkan sebagai intro.

The Enemy Inside

Track dengan ritme yang rapat dan cepat, dengan nuansa dark namun melodik. Lagu ini sekali lagi menunjukkan kelebihan Dream Theater yang seakan menggambarkan rumus matematika di atas kanvas dan hasilnya adalah lukisan seindah karya Picasso, lagunya dimainkan dengan begitu rumit, cerdas, memeras otak, namun tetap terdengar begitu menggugah.

The Looking Glass

Track yang melodik dengan nuansa Rush, bahkan rolling drums Mangini juga mengingatkan akan Neil Peart, tetapi dengan tegangan dan balutan metal yang lebih tinggi dibandingkan Rush. Style Dream Theater era Images and Words juga terdengar di beberapa part.

Enigma Machine

Instrumental dengan nuansa dark dan tempo cepat, dan tentu dipenuhi dengan instrumen yang berakrobatik walaupun tempo sempat diperlambat sebentar di pertengahan.

The Bigger Picture

Saatnya tiba bagi penggemar ballad Dream Theater yang menambah daftar koleksi ballad-ballad ciamik mereka, tanpa melepaskan unsur progresifnya.

Behind The Veil

Track yang menghentak gagah dengan chorus yang berpotensi menjadi sangat akrab di telinga fans DT.

Surrender to Reason

Satu lagi track yang entah kenapa intronya mengingatkan saya lagi dengan Rush, namun kemudian berkembang menjadi track mid tempo yang memperdengarkan melodi indah dari John Petrucci dan sedikit kocokan John Myung yang intens di tengah lagu.

Along for the Ride

Sebuah ballad lagi, kali ini dengan petikan gitar yang dominan, jangan lewatkan arpeggio indah John Petrucci yang mengiringi lantunan vokal James LaBrie, atau solo keyboard Jordan Rudess yang menyayat hati. Tampaknya tidak diragukan lagi track ini akan menjadi ballad andalan baru Dream Theater.

Illumination Theory

Track terakhir, tetapi jangan kuatir, karena track ini berdurasi 22 menit lebih, jadi dijamin akan menjadi penutup yang memuaskan.  Semuanya ada di sini, ada rock ‘n roll progresif ala Dream Theater, tempo patah-patah yang cepat yang membuat nafas tertahan, vokal James LaBrie dari serak nyaris nge-growl sampai melengking jernih, ada unsur ballad, alunan neo-classic, dan pameran akrobat dari masing-masing personil Dream Theater. Tetapi memang sangat jarang lagu yang berdurasi sepanjang ini menggeber nonstop dari awal sampai akhir, selalu ada jedah saat tempo berubah menjadi lambat selama beberapa menit, sebelum kemudian ngamuk lagi dan akhirnya ditutup dengan lembut.

Dengan album self-titled ini, barangkali Dream Theater bermaksud menunjukkan sebuah awal yang baru. Tetapi tentu saja bagi fans DT, album ini predictable dan melanjutkan posisi DT sebagai band progresif metal yang mungkin tidak berlebihan kalau dibilang, nomor satu saat ini. Nyaris tidak ada perubahan: Mike Mangini terdengar sudah lebih unjuk gigi dan porsi permainannya sudah setara Mike Portnoy saat masih di DT, petikan cepat dan melodik masih keluar dari jari-jari ajaib John Petrucci, rambut John Myung yang lurus berbanding terbalik dengan betotan bassnya yang keriting, dan pijatan Jordan Rudess pada tuts keyboard masih menghasilkan berbagai nuansa dari mellow sampai mistis, dan terakhir vokal khas James LaBrie masih terdengar prima.

(Visited 85 times, 1 visits today)

Leave a Reply