Evolusi

 Perdebatan Teori Evolusi
Teori evolusi barangkali merupakan teori yang paling banyak diperdebatkan di masyarakat umum, tetapi bukan berarti teori evolusi adalah teori yang lemah. Teori evolusi adalah teori dalam bidang biologi yang telah diterima komunitas sains. Sebuah penjelasan hanya dapat diterima sebagai teori sains jika dapat dikonfirmasi berulang-ulang (repeatable) melalui observasi dan eksperimen. (“Scientific theory – Wikipedia, the free encyclopedia,” n.d.)

Umumnya pihak yang tidak menerima teori evolusi membenturkan sains dengan iman/kepercayaan kitab suci. Kubu anti-evolusi ini sering disebut sebagai creationism (“Creationism – Wikipedia, the free encyclopedia,” n.d.).
Teori evolusi itu sendiri tidak pernah diperdebatkan di kalangan saintis, baik oleh ilmuwan kristen yang taat (misalnya Francis Collins) ataupun ilmuwan atheis (misalnya Richard Dawkins), pengajaran tentang evolusi tidak pernah menjadi kontroversi di dunia sains, semuanya sepakat mendukung teori evolusi, dari sudut pandang sains, evolusi merupakan teori dan fakta, bukan lagi sekedar hipotesa. Pada salah satu survey di website livescience.com
(“Creationism vs. Evolution Poll | LiveScience,” n.d.), akses pada tanggal 29 Januari 2013 menunjukkan pertanyaan dan hasil polling berikut:
How do you believe people came into existence?
  • Human evolved over millions of years without God. (74.94%, 2665 votes).
  • God created humans sometime in the last 100,000 years. (8.24%, 293 votes).
  • Human evolved, but God guided the process. (16.82%, 598 votes).
Survey yang mirip tetapi dengan hasil yang berbeda ditulis pada artikel berikut (“In U.S., 46% Hold Creationist View of Human Origins,” n.d.):
  • Tuhan menciptakan manusia seperti bentuknya saat ini, memperoleh suara 46% (mirip pilihan b. pada survey di livescience.com).
  • Manusia berevolusi dengan bimbingan Tuhan, memperoleh suara 32% (mrip pilihan c. pada survey di livescience.com).
  • Manusia berevolusi tanpa campur tangan Tuhan, memperoleh suara 15% (mirip pilihan a. pada survey di livescience.com).
Apakah dua hasil survey yang berbeda tersebut menunjukkan kecenderungan perbedaan pandangan antara orang yang memiliki latar belakang sains dan orang yang memiliki latar belakang religi? Lebih tepat jika dikatakan dua hasil survey tersebut menunjukkan kecenderungan perbedaan antara orang yang memahami teori evolusi dan orang yang tidak memahami teori evolusi. Orang yang mengatakan bahwa teori evolusi salah, tidak pernah datang dari kalangan ilmuwan biologi, bahkan sebenarnya tidak perlu menjadi ilmuwan biologi untuk mempelajari teori evolusi, tetapi bagi kebanyakan orang sungguh sulit mulai mempelajari, apalagi menerima sesuatu yang bertentangan dengan dogma yang diyakininya.
Charles Darwin, ilmuwan “malang” yang sering diserang creationism, mencetuskan teori evolusi yang diteruskan oleh ilmuwan lainnya, sehingga menyerang teori evolusi bukan hanya menyerang pemikiran Charles Darwin, tetapi juga menyerang pemikiran ilmuwan lainnya khususnya dalam ilmu biologi.
Memahami Evolusi
Evolusi adalah perubahan sepanjang waktu dari generasi ke generasi, sampai saat ini makhluk hidup terus berevolusi. Jadi jika alasan menolak evolusi adalah karena sulit menerima makhluk hidup mengalami perubahan, maka bayangkan sudah berapa banyak generasi yang dilalui makhluk hidup (kehidupan tertua yang diketahui berusia 3.5 milyar tahun), justru seharusnya kita sulit menerima jika makhluk hidup tidak mengalami perubahan setelah sekian lama. Tetapi nyatanya pada manusia modern saat ini pun, terdapat demikian banyak perbedaan fisik seperti warna rambut/mata, tinggi badan, kulit, dan lain sebagainya, demikian juga berbagai makhluk hidup misalnya laba-laba yang saat ini memiliki 40 ribu lebih spesies yang diketahui. Semua contoh tersebut merupakan perubahan evolusioner.
Sering kali creationism berpikir dalam kerangka perubahan individu, padahal perubahan individu bukanlah evolusi, misalnya seseorang pernah menjadi bayi dan sekarang telah dewasa, ini adalah perkembangan (development). Salah satu penyebab evolusi adalah seleksi alam, tetapi seleksi alam bukanlah satu-satunya yang menyebabkan terjadinya evolusi.
Bukti Evolusi
Evolusi memiliki dua proses fundamental, yaitu:
  • Perubahan pada garis keturunan yang sama.
  • Formasi yang membentuk keturunan baru (terpisah dari keturunan yang sudah ada).
Evolusi Biston Betularia merupakan contoh klasik bukti evolusi yang disebabkan seleksi alam. Ngengat berwarna putih sebelum terjadi revolusi industri di Inggris berpopulasi lebih banyak, namun karena polusi udara akibat revolusi industri membuat banyak ngengat putih yang mati karena warna pohon tempat mereka berdiam berubah menjadi gelap, mengakibatkan predator (burung) dapat dengan mudah memakan ngengat berwarna putih. Sementara ngengat berwarna hitam bertambah banyak karena warna pohon yang gelap memudahkan mereka berkamuflase dari incaran predator (“Evolusi biston betularia – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas,” n.d.).
Secara observasi dan matematika, seleksi alam tidak terelakkan, jika suatu spesies mampu bertahan dan bertambah populasinya, maka semakin banyak generasi yang dilalui, persentase spesies tersebut semakin banyak dibandingkan spesies yang tidak mampu bertahan.
Pemahaman evolusi juga bermanfaat bagi kemanusiaan, terutama dalam bidang medis. Penemuan Penicillin sebagai antibiotik untuk mencegah infeksi bakteri menyelamatkan banyak prajurit yang terluka pada perang dunia II, menyebabkan Penicillin diproduksi masal pada tahun 1943. Tetapi apa yang terjadi? Hanya dalam waktu singkat, yaitu pada tahun 1947, perlawanan bakteri pada antibiotik tersebut ditemukan, dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini juga merupakan bukti evolusi bakteri karena seleksi alam, bakteri yang mampu bertahan terhadap Penicillin berpopulasi lebih banyak dibanding bakteri yang tidak mampu bertahan. Karena itu, sangat penting untuk mengkonsumsi antibiotik hanya saat benar-benar dibutuhkan.
Bukti lain evolusi adalah penelitian mengenai nenek moyang kuda modern sekitar 60 juta tahun yang lalu yang hanya setinggi setengah meter, sementara kuda modern sekarang memiliki tinggi hampir 2 meter. Kuda, keledai, dan zebra modern merupakan contoh formasi yang membentuk garis keturunan/spesies yang baru, yang berasal dari satu spesies yang sama 60 juta tahun yang lalu.
Banyak perubahan evolusioner yang disebabkan oleh seleksi alam menghasilkan bentuk yang baru, namun tetap memiliki leluhur yang sama, bahkan antara amuba dan manusia juga memiliki leluhur yang sama, telah dibuktikan bahwa penemuan pertama kehidupan di bumi memiliki bentuk yang sederhana (satu sel) dan berevolusi menjadi lebih kompleks. Dunia sains juga telah membuktikan transisi bentuk kuda yang berevolusi berdasarkan fosil, perubahan tidak hanya dilihat secara keseluruhan, tetapi juga perbagian misalnya bagaimana transisi bentuk telapak kuda berevolusi.
Lalu jika makhluk hidup memiliki leluhur yang sama, seharusnya kita menemukan fosil transisi yang menghubungkan kelompok modern dengan leluhurnya. Hal ini dapat dibuktikan pada kasus burung, burung sebenarnya merupakan reptil, sesuai dengan penemuan fosil dinosaurus berbulu (Sinornithosaurus millenni). Penemuan fosil transisi ini juga terbukti konsisten karena berusia antara rentang waktu yang tepat. Jadi tidaklah benar jika dikatakan kelemahan teori evolusi adalah “missing link” alias tidak adanya fosil transisi.
Contoh pemikiran yang salah lainnya adalah jika saat ini terdapat buaya (crocodile) dan bebek (duck), maka seharusnya terdapat fosil transisi makhluk setengah buaya dan setengah bebek (crocoduck)! Tentu saja fosil transisi seharusnya merupakan fosil penghubung bentuk leluhur dan bentuk modern. Memang masih terdapat beberapa fosil transisi yang belum ditemukan, tetapi tentu saja tidak berarti fosil itu tidak ada, sebaliknya sudah cukup banyak ditemukan fosil transisi. Salah satunya lagi adalah penemuan berbagai fosil mamalia laut (cetaceans, seperti ikan paus dan lumba-lumba). (“Evolution of cetaceans – Wikipedia, the free encyclopedia,” n.d.)
Bukti lain evolusi adalah terdapatnya organ vestigial pada makhluk hidup, organ vestigial adalah organ yang sudah kehilangan seluruh atau sebagian besar fungsi dasarnya. Misalnya terdapat tulang tungkai belakang pada ikan paus abu-abu (gray whale), sementara ikan paus tersebut tidak memiliki kaki. Hal ini sangat sulit dijelaskan kecuali dengan penjelasan bahwa ikan paus memiliki leluhur yang sama. Organ vestigial lainnya adalah otot pada telinga manusia yang sudah banyak kehilangan fungsi dasarnya karena kebanyakan orang tidak dapat menggerakkan telinganya, sementara otot ini masih mampu bekerja dengan baik pada kucing, misalnya. Kasus lainnya adalah gen vestigial, contohnya gen untuk membuat protein kuning telur pada mamalia, gen tersebut ada tetapi sudah tidak berfungsi pada mamalia.
Intelligent Design vs Inefficient Design
Salah satu alasan menentang evolusi yang banyak didengungkan creationism adalah segala sesuatu tercipta sedemikian indah, jadi terdapat suatu rancangan yang sangat cerdas atau intelligent design. Tetapi kembali ini hanyalah pemikiran yang sempit, terdapatnya organ vestigial sudah membuktikan bahwa itu bukanlah rancangan yang cerdas, demikian juga dengan evolusi bumi yang selama perjalanannya mengalami berbagai kerusakan karena meteor dan asteroid, gempa bumi dan gunung berapi. Contoh rancangan yang juga tidak efektif adalah saraf pangkal tenggorokan (laryngeal nerve) yang mengelilingi batang nadi (aorta) pada manusia dan mamalia, rancangan tersebut sangat tidak efektif, apalagi untuk jerapah yang memiliki leher panjang. Tetapi rancangan ini bekerja dengan baik pada makhluk hidup berbentuk ikan, hal ini kembali menunjukkan bahwa makhluk hidup memiliki leluhur yang sama. Dengan demikian, penjelasan bahwa makhluk hidup dibangun dari awal dengan intelligent design merupakan ide yang tidak masuk akal dan tidak dapat dibuktikan.
Bantahan Terhadap Evolusi
Terdapat berbagai bantahan melawan fakta evolusi namun hanya sebatas level media dan tidak terbukti benar dari sudut pandang sains. Misalnya fosil kelinci pada era Precambrian (Precambrian rabbit) yang tidak terbukti ada. Ini hanyalah istilah yang dipopulerkan oleh J.B.S. Haldane saat ditanya bukti apakah yang dapat meruntuhkan teori evolusi.
Beberapa bantahan lain:
  • Terlalu banyak perubahan pada makhluk hidup. Memang tidak mudah membayangkan bagaimana berbagai variasi makhluk hidup saat ini bisa ada di muka bumi. Tetapi perlu dipahami bahwa usia bumi sudah sangat tua dibandingkan umur manusia, kita tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana variasi makhluk hidup bermunculan karena keterbatasan usia. Tetapi bayangkan hal ini, anjing mulai dijinakkan dan hidup bersama manusia beberapa ribu tahun yang lalu, perkembangbiakan anjing yang kita lihat saat ini baru berusia beberapa ratus tahun, namun kita telah melihat perubahan variasi anjing yang signifikan, misalnya bandingkan anjing Great Dane dengan Chihuahua! (“Dog breed – Wikipedia, the free encyclopedia,” n.d.) Jika Anda melihat begitu banyak variasi anjing pada link Wikipedia tersebut, apa yang anda bayangkan sebagai penyebab semua itu, intelligent design atau evolusi? Bayangkan perubahan yang dapat terjadi pada rentang 3.5 milyar tahun kehidupan! Untuk memudahkan membayangkan waktu yang sangat jauh ini, anggap 1000 tahun adalah 1 milimeter (yang sudah menciptakan perubahan dramatis pada variasi anjing), maka 3.5 milyar tahun adalah 3.5 kilometer. Seharusnya kita tidak heran lagi jika terdapat begitu banyak variasi makhluk hidup seperti yang kita lihat hari ini.
  • Terlalu banyak kompleksitas pada makhluk hidup. Contohnya adalah mata, jika terjadi evolusi, mengapa kita tidak melihat bentuk setengah mata? Lagi-lagi karena keengganan belajar atau dogma yang melekat, ada saja pihak-pihak yang menggunakan alasan ini untuk membantah evolusi. Faktanya, bahkan 1 sel organisme yaitu euglena memiliki eye spot photo-receptor, sel inilah langkah awal evolusi hingga menghasilkan mata yang kita lihat saat ini.
  • Jika evolusi terjadi, mengapa evolusi tidak berlangsung lagi? Bantahan ini dibangun dengan dasar asumsi yang salah. Misalnya beranggapan terjadinya spesies baru akan mengakibatkan spesies lama mati, hal ini tidak sepenuhnya benar. Kenyataannya, bentuk baru terbentuk karena menguntungkan sesuai dengan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki, misalnya bentuk paruh burung yang berbeda-beda, tergantung apa yang dimakannya, burung pemakan serangga akan memiliki paruh yang berbeda dengan burung pemakan kaktus, dalam kasus ini tidak berarti spesies lama mati. Asumsi salah lainnya adalah menganggap evolusi memiliki arah tertentu dan manusia berasal dari monyet, karena itu berpikir mengapa monyet modern tidak berevolusi menjadi makhluk mirip manusia, seharusnya di jalanan akan banyak terlihat manusia monyet jika evolusi terus berlangsung! Faktanya, tidak ada arah tertentu pada evolusi, monyet saat ini juga mengalami evolusi dan tidak dapat disamakan dengan monyet jutaan tahun lalu. Manusia bukan berevolusi dari amuba atau simpanse atau lainnya yang hidup saat ini, tetapi manusia dan spesies lainnya memiliki leluhur yang sama, bahkan makhluk bersel satu juga berevolusi sepanjang waktu. Karena itu membayangkan evolusi seperti anak tangga bertingkat (contoh: anak tangga pertama ikan, berevolusi menjadi monyet di anak tangga kedua, berevolusi menjadi manusia di anak tangga ketiga, dan seterusnya) adalah pemahaman yang salah, evolusi tidak menilai mana tingkat yang lebih rendah atau lebih tinggi. Pemahaman yang benar adalah melihat evolusi seperti pohon, di mana berbagai spesies yang ada termasuk manusia merupakan cabang-cabang pohon yang memiliki akar yang sama, ada yang lebih berevolusi (banyak perubahan), ada yang kurang berevolusi (sedikit perubahan).
  • Teori evolusi tidak menjelaskan asal-usul makhluk hidup. Hal ini memang benar. Teori evolusi memang tidak mencoba mencari mengapa dan bagaimana kehidupan berasal. Terdapat cabang ilmu lainnya yaitu astrobiology yang mempelajari asal-usul dan masa depan kehidupan di alam semesta.
  • Teori evolusi membantah keberadaan Tuhan. Faktanya, teori evolusi tidak membicarakan Tuhan. Sains adalah sains, opini adalah opini. Banyak ilmuwan memiliki opini yang berbeda mengenai Tuhan, tetapi saat membicarakan sains, mereka akan sepakat dengan teori yang didukung bukti dan observasi yang dapat diverifikasi, seperti teori atom, gravitasi, dan tentu saja evolusi.
Akhir kata, memang menyedihkan melihat bagaimana permusuhan dan pertentangan justru disebabkan karena keyakinan/dogma, yang seharusnya mengarahkan manusia untuk menjadi lebih baik.
Bibliography:
Creationism – Wikipedia, the free encyclopedia. (n.d.). Retrieved from http://en.wikipedia.org/wiki/Creationism
Creationism vs. Evolution Poll | LiveScience. (n.d.). Retrieved from http://www.livescience.com/20700-creationism-evolution-poll.html
Dog breed – Wikipedia, the free encyclopedia. (n.d.). Retrieved February 10, 2013, from http://en.wikipedia.org/wiki/Dog_breed
Evolusi biston betularia – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. (n.d.). Retrieved February 9, 2013, from http://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi_biston_betularia
Evolution of cetaceans – Wikipedia, the free encyclopedia. (n.d.). Retrieved February 10, 2013, from http://en.wikipedia.org/wiki/Evolution_of_cetaceans
In U.S., 46% Hold Creationist View of Human Origins. (n.d.). Retrieved January 31, 2013, from http://www.gallup.com/poll/155003/hold-creationist-view-human-origins.aspx
Scientific theory – Wikipedia, the free encyclopedia. (n.d.). Retrieved February 9, 2013, from http://en.wikipedia.org/wiki/Scientific_theory
(Visited 105 times, 1 visits today)

One thought on “Evolusi

  1. Bagus rangkumannya
    Kebetulan saya pernah mampir dan lulus di fakultas biologi ugm, membahas evolusi adalah tergantung keyakinan masing-masing ada yang atheis ada theis, bahkan yang agnostik(abu2 tuhan antara tiada dan ada.. kalau ada bukti materi baru yakin kalau tdk ada ya tidak yakin) karena kita di Indonesia dominan tentu theis, apalagi pelajaran evolusi dianggap pelajaran biasa bukan pelajaran agama jadi… bisa kita katakan AH TEORI 🙂 seperti pelajaran ilmu pengetahuan yang lain,pasti ada sejarah teorinya selalu berubah tergantung penemuan dan penelitiannya. So perdebatan benar tidaknya itu tetap ada karena masing-masing punya sisi pandang keyakinan yang berbeda dan itu disemua teori ilmu pengetahuan wajar terjadi…

Leave a Reply