Solo Gitar Favorit

rock-guitar

Kecuali untuk band seperti DragonForce, jatah solo gitar pada sebuah lagu rock/metal biasanya kurang dari semenit, tapi memiliki peran yang penting sehingga dapat menjadi bagian yang paling ditunggu-tunggu. Beberapa solo gitar favorit saya dan (seingat saya) adalah sebagai berikut:

* Dream Theater – Best of Times
Ending lagu ini sepertinya memang dipersiapkan bagi John Petrucci untuk bersolo ria, dengan nuansa ballad. Tapi nuansa ballad tidak membatasi Petrucci mengamuk mengumbar arpeggio cepat dan sweep picking dalam nada-nada surga.

* Elvenking – Seasonspeech
Solo gitar di lagu ini terbagi menjadi dua bagian, tapi yang keren adalah solo bagian pertama dimana musik yang tadinya cepat tiba-tiba melambat dan melodi gitar yang begitu keren mengalun diiringi gitar akustik di background.

* Europe – Seven Doors Hotel
Tahun 1983, musik Europe masih lebih garang dibanding sekarang, bahkan dibanding jaman album “The Final Coutdown” (1986), jadi solo gitar John Norum juga masih ganas, dengan sentuhan neo-classic yang kental.

* George Lynch – We Don’t Own This World
Si kembar Nelson berada di belakang mic menyanyikan lagu dari album solo George Lynch ini. Solo arpeggio lincah di lagu ini sepertinya jarang dikeluarkan George Lynch selama di Dokken.

* God Bless – Menjilat Matahari
Jenis solo gitar Eet Sjahranie di lagu ini termasuk langka ditemukan di blantika musik Indonesia, apalagi pada saat itu (album “Raksasa”, tahun 1989). Solo Eet seolah menggabungkan style Eddie Van Halen pada teknik tapping dan style petikan cepat Yngwie Malmsteen.

* Gorky Park – Try To Find Me
Band asal Rusia ini tampil mengejutkan pada era glam rock akhir tahun 80-an, apalagi permainan gitarisnya yang berkualitas di atas rata-rata gitaris glam rock saat itu. Seperti juga kebanyakan band glam rock, Gorky Park memiliki power ballad, berjudul “Try To Find Me” lagu manis yang sangar di bagian solo gitar. Awalnya hanyalah permainan akustik yang syahdu, namun berlanjut dengan permainan gitar elektrik yang dimainkan dengan bersih dan cepat plus pilihan nada yang apik.

* Loudness – Get Away
Akira Takasaki memang gitaris dengan skill komplit, solonya di lagu ini sungguh kompleks nada dan tekniknya, dan neo-classic!

* Megadeth – Tornado of Souls
Macan mati meninggalkan belang, Marty Friedman cabut dari Megadeth meninggalkan solo-solo gitar yang sulit (biarpun berhasil dieksekusi dengan sukses oleh Chris Broderick).  Solo gitar di “Tornado of Souls” sedikit mengingatkan permainan Marty saat di Cacophony yang rumit, cepat, tapi sekaligus indah.

* White Lion – Don’t Say Its Over
Kalau dari lagunya, hampir tidak ada yang istimewa dan banyak lagu White Lion yang lebih nikmat dari ini. Tapi solo gitarnya wajib ditunggu karena sangat khas Vito Bratta, yaitu pengulangan melodi tapi dengan variasi yang kaya, dimainkan dengan lincah dengan banyak sentuhan teknik legato.

* Yngwie Malmsteen – Motherless Child
Tidak diragukan lagi bahwa Yngwie sudah banyak menciptakan solo gitar maut, salah satunya di solo gitar lagu “Motherless Child”, yang dimainkan super cepat, clean, dan rapi.

Page Facebook ReviewMusik

(Visited 136 times, 1 visits today)

4 thoughts on “Solo Gitar Favorit

  1. Kirain web ini udah gak bakal diupdate *Peace

    Diantara semuanya yg pernah ane dengerin cuma The Best Of Times. Emang super nih lagu, dari intro gitar acoustic, string, sampai klimaksnya di solo gitar Petrucci, seakan bekerja sama untuk menyayat hati siapa saja yg mendengarkan. Benar2 mengharukan.

    Ane yg awalnya gak begitu suka sama DT karena gak suka karakter vokalnya, karena lagu inilah -meski awalnya lebih menikmati versi vokal MP- jadi mulai bisa lebih bersabar untuk menikmati lagu2 DT yg lain.

    Kalau solo yg lain versi ane:

    Guns N Roses – November Rain: solo #1 #2 #3 semuanya keren. Kalau boleh saya katakan, ini adalah solo gitar yg paling menyiksa. Tekhnik bendingnya-lah yg berperan besar atas kesan yg sangat menyedihkan di lagu ini.

    Avenged Sevenfold – Danger Line: kesan gelap, menyedihkan, menyerah, semuanya bersatu disini. Ditambah dengan iringan trompet & ending berupa siulan, solo gitar di lagu ini berperan seperti melodi perpisahan atau parade kematian.

    Dengan dahi berkerut mungkin kalian mengatakan, “gak sopan mensejajarkan anak muda kemarin sore dgn Petrucci atau Slash,” tapi hei, musik itu untuk dinikmati, bukan didiskriminasi! Dengarkanlah lagu ini dari fase abu-abu, dan kalian akan menemukan keindahannya. Bukan memaksa, saya hanya kasihan kalau sampai nyawa anda terhenti sebelum menikmati salah satu solo gitar terbaik versi saya ini. Sayang, durasinya pendek.

    Masih banyak yg lain, tp 3 diatas-lah yg kesannya paling menyedihkan.

    Sedikit berlebihan tak apa lah, namanya opini pribadi.

Leave a Reply