Options Spread (Lanjutan)

bill_warren

Foto Om Bill bersama Engkong Buffett
Melanjutkan pembahasan mengenai options spread, kalau pada tulisan yang lalu banyak pembahasan teorinya, sementara kata orang practice makes perfect (kan jarang ada yang bilang theory makes perfect), maka pada tulisan ini lebih banyak membahas mengenai prakteknya.

Sebelum itu, masih ada sedikit teori yang tercecer, yang sebaiknya dituntaskan dulu.
Debit Spread

Seperti telah dijelaskan pada artikel sebelumnya, options spread berarti kita memiliki posisi BUY dan SELL sekaligus. Posisi kita disebut Debit Spread jika premi yang kita keluarkan untuk BUY lebih besar dibandingkan premi yang kita terima dari SELL.

Langsung saja ke contohnya (angka-angkanya hanya contoh saja, jangan jadi patokan):

Saat ini saham KO seharga $53.88

BUY CALL KO strike price 55.00 Jan 08 @ $2.30
SELL CALL KO strike price 60.00 Jan 08 @ $0.75

Pada posisi tersebut, kita mengeluarkan uang untuk membeli options KO strike price 55.00 sebesar $2.30, dan menerima uang dari menjual options KO strike price 60.00 sebesar $0.75, sehingga total kita mengeluarkan uang adalah $2.30 – $0.75 = $1.55 / kontrak.

Nah, posisi Ini disebut dengan debit spread. Tujuannya mudah dimengerti, yaitu membeli dengan harga yang lebih murah dibandingkan BUY CALL yang sebesar $2.30, jadinya resiko/max. loss dapat ditekan, konsekuensinya profit yang kita dapatkan menjadi terbatas/limited.

Credit Spread

Tetapi jika contohnya seperti berikut:

Saat ini saham KO seharga $53.88

SELL CALL KO strike price 55.00 Jan 08 @ $2.30
BUY CALL KO strike price 60.00 Jan 08 @ $0.75

Artinya kita mendapatkan uang sebesar $2.30 dari SELL, dan mengeluarkan uang untuk BUY sebesar $0.75. Totalnya kita menerima uang sebesar $2.30 – $0.75 = $1.55 / kontrak.

Posisi ini disebut dengan credit spread. Hmm, sepertinya kok enak, dapat uang begitu saja? Sebaliknya, posisi seperti ini relatif sangat tidak enak, setidaknya buat saya pribadi.

Tujuan dari credit spread adalah, mengharapkan posisi spread menjadi expired worthless (yang BUY maupun SELL), dengan demikian uang yang sudah diterima tetap di tangan. Tapi apa jadinya jika tidak expired worthless? Jika saham KO terus melambung tinggi menembus ITM yang berarti dapat dieksekusi, kita wajib membeli kembali posisi SELL, yang harga belinya sudah lebih tinggi dibandingkan waktu kita menjualnya. Di posisi seperti ini, posisi BUY yang kita miliki dapat mengurangi resiko, karena kita dapat menjualnya dengan harga yang lebih tinggi dibanding saat kita membelinya.

Karena itu, strategi credit spread sering dipasang pada posisi far OTM, untuk memperkecil kemungkinan posisi options tersebut menjadi ITM.

Try This!

Nah sekarang saya mengajak rekan-rekan mencoba salah satu strategi yang sampai saat ini merupakan salah satu strategi favorit saya. Ciri strategi ini adalah:

– Vertical Spread
– Bullish
– Call options
– Debit
– Long term

Setelah saya cari-cari infonya, ternyata mahluk ini bernama beken Bull Call Spread. Menurut saya, mempelajari options bukan dengan menghapal nama-nama strateginya, tapi pahami, resapi, dan nikmati (apa coba), maka kita bahkan tidak perlu mengetahui nama beken strategi tersebut.

Contoh strategi Bull Call Spread seperti ini:

Tanggal 2 September 2008, kita memasang posisi:

Buy Call RIO Strike Price 27.50 Jan 09 @ $2.49
Sell Call RIO Strike Price 30.00 Jan 09 @ 1.56

Di mana harga RIO sekitar $25 – $26.

Max. loss adalah $2.49 – $1.56 = $0.93 / kontrak, bandingkan dengan max. loss posisi Buy Call $2.49, dari sini kita sudah menekan risk hampir 3x lipat lebih kecil.

Saya mengharapkan bullish dari posisi tersebut, tetapi apa daya yang terjadi RIO (dan market keseluruhan) justru hancur-hancuran pada hari-hari selanjutnya, sampai RIO menyentuh 52 weeks low-nya di $20.84.

Hingga hari ini (11 September 2008), posisi menjadi:

Buy Call RIO Strike Price 27.50 Jan 09 @ $0.97 (loss $1.52)
Sell Call RIO Strike Price 30.00 Jan 09 @ 0.64 (profit $0.92)

Seandainya saya hanya memegang posisi Buy Call, kerugian saat ini adalah $1.52, tetapi dengan posisi spread ini, saya dapat menekan kerugian saat ini menjadi $1.52 – $0.92 = $0.6.

Hal yang menarik disini, kita dapat melakukan taking profit pada posisi SELL, sehingga $0.92 langsung masuk kantung, tapi ingat jika Anda melakukan ini, max. loss pada perhitungan awal berubah menjadi lebih besar karena posisi SELL masih memiliki harga $0.64.

Posisi BUY sendiri merupakan floating loss, masih dapat berbalik arah menjadi posisi yang menguntungkan.

Kita harus telah memiliki trading plan kapan menutup posisi SELL jika market bergerak tidak sesuai dengan prediksi, saya pribadi tidak akan buru-buru menutup posisi SELL yang sudah profit, saya baru akan menutupnya jika harga options tersebut telah turun 80% dari saat saya menjualnya. Atau kurang lebih sekitar harga $0.30. Mudah membayangkannya, bukan? Kita menjual sesuatu dengan harga $1.56, lalu membeli kembali dengan harga $0.30, maka keuntungan yang diperoleh adalah $1.26. Kalau ini saya lakukan, maka posisi spread yang tadi berubah menjadi BUY CALL saja, yang mana resikonya sudah jauh lebih kecil karena kita sudah taking profit sebesar $1.26.

Alternatif lain jika market bergerak tidak sesuai arah adalah, memasang kembali Bull Call Spread. Tentukan target kapan Anda akan melakukannya.

Demikian sekelumit strategi Bull Call Spread, silahkan jika rekan-rekan ada pertanyaan, atau menemukan kelemahan strategi ini, atau menemukan cara yang lebih baik lagi.

Pesan saya jangan malas berhitung dalam berinvestasi biarpun Anda tipe orang yang benci matematika dan selalu dapat nilai merah waktu sekolah (contohnya ya si Joko ini), untunglah kita tidak perlu punya otak kalkulator berkat sebuah software spreadsheet seperti Microsoft Excel, dengan sheet sederhana, Anda dapat menuliskan seluruh strategi dan trading plan perhitungan diatas.

Keep sharing!

Related Posts:

(Visited 120 times, 1 visits today)

9 thoughts on “Options Spread (Lanjutan)

  1. komen fotonya aja pak, kira2 bill gates ngomong apa gitu.. mungkin: “woi sekarang loe lebih kaya dari gue ya!”

    trus dijawab warren buffett: “ga, koruptor indo lebih kaya, cuma blom ketauan aja hihihihi”

  2. Kelihatan nya om Buffet menyerah, sedangkan si om Bill mengenakan baju harvard, apakah doi lulusan harvard? Ga deh, soal nya dengar2 doi kan DO. Atau jgn2 doi mau akuisi Harvard, Harvard University –> Microsoft University :O

  3. saya sih belum tau strateginya Albert Seah bro, mungkin bisa di share? Tapi intinya biarpun prediksi kita persentasenya cukup besar, katakanlah 70% – 80% market akan sesuai dengan prediksi, saya pribadi tetap menghindari long/buy call.

  4. Pak Joko, saya mau tanya tentang bull call spread. Pak ada mengatakan kalau strateginya tdk sesuai dengan arah kita mis bull jadi bear, pasang lagi bull call spread. Maksudnya setelah sell legnya kita beli lagi tapi market masih berlawanan arah jadi kita sell call lagi atau pasang bull call spread yg baru. Thanks

  5. kalau saya, biasanya tertindak kalau sell call sudah profit 80%.

    jadi contohnya seperti ini, kita pasang bull call spread di saham XYZ, anggaplah angka2nya sbb:

    BUY CALL strike price 27 Jan09 harga $1.5

    SELL CALL strike price 30 Jan09 harga $1.0

    Posisi diatas modalnya $0.5.

    Kalo market naik sesuai prediksi kan ngga masalah, kalo berlawanan arah, jangan buru2 bertindak, kita baru bertindak setelah posisi SELL CALL untung 80% (ini bisa disesuaikan dgn profil masing2), dlm kasus ini SELL CALL kita sudah profit $0.80.

    Alternatif yang bisa kita lakukan bisa pilih salah satu:

    1. Jual SELL CALL, kantungin $0.80 (locking profit) dan biarkan posisi BUY CALL dengan harapan saham akan naik lagi.

    2. Jual SELL CALL, DAN pasang bull call spread lagi, lebih baik dengan expiration yang lebih jauh lagi. Sehingga kalau market masih terus down, SELL CALL dari bull call spread yang kedua akan profit.

    3. Tidak menjual apa-apa, pasang bull call spread lagi.

    Nah kalau saya, skenario 1 akan saya jalankan jika options tersebut harganya relatif mahal.

    skenario 2 untuk options yang harganya relatif sedang.

    dan skenario 3 untuk options yang harganya relatif murah (yang mana saya masih punya banyak amunisi untuk average down).

    strategi diatas bukan harga mati 🙂 yang penting sebelum masuk posisi, kita sudah siapkan worst cases dan bagaimana mengatasinya.

  6. Tambahan supaya nggak rancu:

    Sebenarnya istilah saya diatas “jual SELL CALL” itu ngga tepat 🙂 yang benar adalah close position SELL CALL dengan cara buy call.

    Jadi ibaratnya kita jual barang X dengan harga $1, barang X turun terus dan kita beli kembali dengan harga $0.20, berarti kita untung $0.80.

    Kenapa kita harus beli kembali barang X itu? karena sebenarnya waktu sell call X kita ngga punya barangnya, minjem dari broker, dan harus dibalikin lagi (close position) dengan cara buy call.

Leave a Reply